Piagam Madinah | Sejarah, Latar Belakang, Isi dan Naskahnya

Dunia-Pendidik.ComPiagam Madinah atau Madinah Charter ialah sebuah dokumen yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai perjanjian formal di tahun 622 Masehi antara dirinya dengan seluruh suku dan kaum urgen di wilayah Yathrib, yang lantas dikenal sebagai Madinah. Piagam Madinah pun disebut sebagai Konstitusi Madinah.

Piagam Madinah | Sejarah, Latar Belakang, Isi dan Naskahnya

Tujuan Piagam madinah ialah untuk menghentikan pertentangan dan konflik sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj yang terjadi di Madinah. Piagam ini pun dibentuk secara jelas, terang, dan detail, dengan memutuskan hak-hak dan kewajiban untuk kaum muslim, kaum yahudi, dan komunitas-komunitas beda di Madinah, sampai-sampai mereka menjadi sebuah komunitas, disebut pun sebagai ummah atau umat.

Piagam Madinah

Berikut akan diterangkan mengenai sejarah dan latar belakang Piagam Madinah, destinasi dibuatnya Piagam Madinah, serta naskah isi Piagam Madinah sejumlah 47 pasal lengkap.
Latar Belakang dan Sejarah Piagam Madinah

Latar belakang Piagam Madinah dibuka karena adanya pertentangan antara kaum-kaum masyarakat di Madinah. Piagam Madinah ditulis pada tahun 622 Masehi di kota Madinah. Piagam ini pun dianggap sebagai konstitusi tertulis kesatu yang terdapat di dunia.

Naskah Piagam Madinah terdiri dari 47 pasal, sejumlah 23 pasal merundingkan tentang hubungan antara umat Islam yakni antara kaum Anshat dan kaum Muhajirin. Sementara 24 pasal lainnya merundingkan tentang hubungan antara umat Islam dengan umat-umat lainnya, tergolong umat Yahudi.

Piagam Madinah ini pun berisi peraturan-peraturan yang berasaskan syariat Islam untuk membentuk suatu negara yang menanam penduduk sekian banyak  suku, ras dan agama yang bermukim di kota Madinah ketika itu, di antaranya yakni kaum Arab Muhajirin Makkah, Arab Madinah, dan masyarakat Yahudi.

Lewat perjanjian ini, Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh prinsip konstitusionalisme dalam perjanjiannya dengan segenap penduduk Madinah ketika itu. Piagam Madinah ini diciptakan dan mengikat seluruh warga yang terdapat di Madinah, yang terdiri dari sekian banyak  kaum atau kabilah tertentu.
Isi dan Naskah Piagam Madinah

“Piagam Madinah”
  1. Sesungguhnya mereka (kaum Muhajirin dari Makkah, kaum Anshat dari Madinah dan kaum yang menggabungkan diri dengan mereka dalam distrik Madinah) tersebut adalahsatu umat, salah satu komunitas masyarakat lain.
  2. Kaum Muhajirin dari Quraisy tetap dalam kelaziman mereka dalam bahu-membahu menunaikan diyat (tebusan atas pembunuhan) salah satu mereka dan mereka menunaikan tebusan tawanan dengan teknik baik dan adil salah satu Mukminin.
  3. Banu ‘Auf tetap dengan kelaziman mereka dan bahu-membahu menunaikan diyat salah satu mereka laksana semula, dan masing-masing suku menunaikan tebusan tawanan dengan baik dan adil salah satu kaum mukminin.
  4. Banu Sa’idah tetap dengan kelaziman mereka bahu-membahu menunaikan diyat salah satu mereka laksana semula, dan masing-masing suku menunaikan tebusan tawanan dengan baik dan adil salah satu kaum mukminin.
  5. Banu Al-Hars tetap dengan kelaziman mereka bahu-membahu menunaikan diyat salah satu mereka laksana semula, dan masing-masing suku menunaikan tebusan tawanan dengan baik dan adil salah satu mukminin.
  6. Banu Jusyam tetap dengan kelaziman mereka bahu-membahu menunaikan diyat salah satu mereka laksana semula, dan masing-masing suku menunaikan tebusan tawanan dengan baik dan adil salah satu mukminin.
  7. Banu An-Najjar tetap dengan kelaziman mereka bahu-membahu menunaikan diyat salah satu mereka laksana semula, dan masing-masing suku menunaikan tebusan tawanan dengan baik dan adil salah satu mukminin.
  8. Banu ‘Amr bin ‘Awf tetap dengan kelaziman mereka bahu-membahu menunaikan diyat salah satu mereka laksana semula, dan masing-masing suku menunaikan tebusan tawanan dengan baik dan adil salah satu mukminin.
  9. Banu Al-Nabit tetap dengan kelaziman mereka bahu-membahu menunaikan diyat salah satu mereka laksana semula, dan masing-masing suku menunaikan tebusan tawanan dengan baik dan adil salah satu mukminin.
  10. Banu Al-‘Aws tetap dengan kelaziman mereka bahu-membahu menunaikan diyat salah satu mereka laksana semula, dan masing-masing suku menunaikan tebusan tawanan dengan baik dan adil salah satu mukminin.
  11. Sesungguhnya mukminin tidak boleh tidak mempedulikan orang beda dalam menanggung beban yang berat dalam tebusan dan diyat diantara mereka namun membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diyat tersebut.
  12. Seorang mukmin tidak diizinkan membuat menyalahi perjanjian yan telah diciptakan dengan mukmin lainnya tanpa persetujuan dari padanya.
  13. Orang-orang mukmin yang taqwa mesti membangkang orang yang menggali atau menuntut sesuatu secara zalim, atau bermaksud jahat, atau mengerjakan permusuhan dan kehancuran di kalangan mukminin. Setiap orang mesti bersatu dalam membangkang kedzaliman tersebut, sekalipun itu dilaksanakan oleh anak dari salah seorang salah satu mereka.
  14. Seorang mukmin jangan membunuh orang beriman lainnya untuk menolong orang kafir. Tidak boleh pula orang beriman menolong orang kafir guna (membunuh) orang beriman.
  15. Jaminan Allah tersebut satu untuk semua kaum. Jaminan (perlindungan) diserahkan oleh mereka yang dekat dalam hubungan kekarabatan. Sesungguhnya mukminin tersebut saling membantu, dan jangan bergantung kepada kelompok yang lain.
  16. Sesungguhnya orang yahudi yang mengekor kita, mereka berhak mendapatkan bantuan dan bantuan, sekitar kaum Mukminin tidak terzalimi dan mereka (yahudi) tersebut tidak mengerjakan permusuhan dengan mereka.
  17. Perdamaian mukminin ialah satu. Seorang mukmin tidak boleh menciptakan perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu pertempuran di jalan Allah, kecuali atas dasar keserupaan dan keadilan salah satu mereka.
  18. Setiap pasukan yang ikut berperang bareng kita, maka anda harus bahu-membahu dan menolong satu sama lain.
  19. Orang-orang mukmin tersebut membalas pembunuh mukmin lainnya dalam pertempuran di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertakwa berada pada tuntunan yang terbaik dan lurus.
  20. Barangsiapa yang membunuh orang beriman dan lumayan bukti atas perbuatannya, mesti dihukum bunuh, kecuali wali terbunuh rela guna menerima diyat. Segenap orang beriman mesti bersatu dalam menghukumnya.
  21. Apabila anda berselisih mengenai sesuatu, penyelesaiannya dirujuk untuk ketentuan Allah Taala dan keputusan Muhammad SAW.
  22. Kaum yahudi bareng kaum muslimin diikutkan memikul ongkos peperangan yang terjadi dengan serangan musuh dari luar Madinah.
  23. Kaum yahudi dari Bani ‘Awf ialah mempunyai hak yang sama kaum mukminin. Untuk kaum Yahudi agama mereka, dan untuk kaum muslimin agama mereka. Kebebasan beragama ini berlaku untuk sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali untuk yang zalim dan jahat karena hal demikian bakal merusak diri dan keluarga.
  24. Kaum yahudi Banu Najjar diperlakukan sama laksana yahudi Banu ‘Awf.
  25. Kaum yahudi Banu Hars diperlakukan sama laksana yahudi Banu ‘Awf.
  26. Kaum yahudi Banu Sa’idah diperlakukan sama laksana yahudi Banu ‘Awf.
  27. Kaum yahudi Banu Jusyam diperlakukan sama laksana yahudi Banu ‘Awf.
  28. Kaum yahudi Banu Al-‘Aws diperlakukan sama laksana yahudi Banu ‘Awf.
  29. Kaum yahudi Banu Sa’labah diperlakukan sama laksana yahudi Banu ‘Awf.
  30. Kaum yahudi Banu Jafnah dari Sa’labah diperlakukan sama laksana yahudi Banu ‘Awf.
  31. Kaum yahudi Banu Syutaibah diperlakukan sama laksana yahudi Banu ‘Awf.
  32. Sekutu-sekutu Sa’labah diperlakukan sama laksana mereka (Banu Sa’labah).
  33. Kerabat yahudi (di luar kota Madinah) sama laksana mereka (yahudi) dalam Madinah.
  34. Tidak seorang pun dibetulkan untuk berperang, kecuali seizin Muhammad SAW. Ia tidak boleh dirintangi seseorang guna (menuntut pembalasan) dampak luka (yang diciptakan orang lain). Siapa melakukan jahat (membunuh), maka balasan kejahatan tersebut akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali andai ia teraniaya. Sesunggunya Allah paling membenarkan peraturan ini.
  35. Untuk kaum yahudi memiliki keharusan untuk membayar ongkos dan untuk kaum muslimin ada keharusan biaya. Mereka (yahudi dan muslimin) tolong membantu dalam menghadapi musuh yang melanggar piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasehat. Dan mengisi janji. Seseorang jangan menanggung hukuman dampak (kesalahan) orang lain. Pembelaan diserahkan kepada pihak yang teraniaya.
  36. Kaum yahudi bersatu dengan kaum muslimin dalam menghadapi serangan luar.
  37. Sesungguhnya Yatsrib tersebut tanahnya haram (suci) untuk warga yang mengekor piagam ini.
  38. Orang yang mendapat garansi (diperlakukan) laksana diri penjamin, sepanjang tidak beraksi merugikan dan tidak khianat.
  39. Tidak boleh jaminan diserahkan kecuali seizin ahlinya.
  40. Sungguh tidak terdapat perlindungan untuk kaum kafir Quraisy Makkah dan juga untuk para penyokong mereka.
  41. Mereka (pendukung piagam) mesti bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib (Madinah).
  42. Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berbaikan dan mereka (pihak lawan) mengisi perdamaian serta melaksankan perdamaian itu, maka perdamaian tersebut harus dipatuhi. Jika mereka diajak berbaikan seperti itu, kaum Mukminin mesti memenuhi anjuran dan mengemban perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib mengemban (kewajiban) setiap sesuai tugasnya.
  43. dengan perlakuan yang baik dan sarat dari semua penyokong piagam ini. Sesungguhnya kebajikan (kesetiaan) itu bertolak belakang dari durjana (pengkhianatan). Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membetulkan dan memandang baik isi piagam ini.
  44. Orang yang terbit (bepergian) aman, dan orang sedang di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah ialah penjamin orang yang melakukan baik dan takwa. Demikianlah isi perjanjian, yang berasal dari Muhammad Rasulullah.

Nah demikian referensi sejarah dan naskah Piagam Madinah sejumlah 47 pasal lengkap, tergolong latar belakang, lokasi dan masa-masa dibuatnya perjanjian, serta destinasi pembuatannya. Semoga dapat menjadi referensi dan meningkatkan wawasan pengetahuan.                      

Belum ada Komentar untuk "Piagam Madinah | Sejarah, Latar Belakang, Isi dan Naskahnya"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel