Psikologi Lansia

Dunia-Pendidik.Com - Psikologi Lansia Proses menua (lansia) ialah proses alami yang disertai adanya penurunan situasi fisik, psikologis maupun sosial yang saling ber interaksi satu sama lain. Keadaan itu ingin berpotensi memunculkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara eksklusif pada lansia.

Psikologi Lansia

Geriatri ialah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lansia yang mencantol aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia.

Ada 4 ciri yang bisa dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yakni :
  1. Keterbatasan faedah tubuh yang bersangkutan dengan kian meningkatnya usia.
  2. Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif
  3. Lanjut umur secara psikososial yang ditetapkan krisis bila : a) Ketergantungan pada orang beda (sangat membutuhkan pelayanan orang lain), b) Mengisolasi diri atau unik diri dari pekerjaan kemasyarakatan karena sekian banyak  sebab, diantaranya sesudah menajalani masa pensiun, sesudah sakit lumayan berat dan lama, sesudah kematian pasangan hidup dan lain-lain.
  4. Hal-hal yang dapat memunculkan gangguan ekuilibrium (homeostasis) sehingga membawa lansia kearah kehancuran / kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif khususnya aspek psikologis yang mendadak, contohnya bingung, panik, depresif, apatis dsb.
Ada sejumlah faktor yang sangat dominan terhadap psikologi lansia. Faktor-faktor itu hendaklah disikapi secara arif sehingga semua lansia dapat merasakan hari tua mereka dengan bahagia. Adapun sejumlah faktor yang dihadapi semua lansia yang sangat memprovokasi kesehatan jiwa mereka ialah sebagai berikut:


1.Penurunan Kondisi Fisik
 
Secara umum kondisi jasmani seseorang yang sudah menginjak masa lansia merasakan penurunan secara berlipat ganda. Hal ini seluruh dapat memunculkan gangguan atau kelainan faedah fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat mengakibatkan suatu suasana ketergantungan untuk orang lain.

Seorang lansia mesti dapat mengatur teknik hidupnya dengan baik, contohnya makan, tidur, tidur dan bekerja secara seimbang.


Faktor psikologis yang menyertai lansia antara beda :
  1. Rasa tabu atau malu bila menjaga kehidupan seksual pada lansia
  2. Sikap family dan masyarakat yang tidak cukup menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya.
  3. Kelelahan atau kebosanan sebab kurang variasi dalam kehidupannya.
  4. Pasangan hidup sudah meninggal.
  5. Disfungsi seksual sebab perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya contohnya cemas, depresi, pikun dsb.
 
2.Perubahan Aspek Psikososial

Pada umumnya sesudah orang menginjak lansia maka ia merasakan penurunan faedah kognitif dan psikomotor. Sementara faedah psikomotorik (konatif) mencakup hal-hal yang bersangkutan dengan desakan kehendak laksana gerakan, tindakan, koordinasi, yang berdampak bahwa lansia menjadi tidak cukup cekatan.

Dengan adanya penurunan kedua faedah tersebut, lansia pun mengalami evolusi aspek psikososial yang sehubungan dengan suasana kepribadian lansia. Beberapa evolusi tersebut dapat dipisahkan menurut 5 tipe jati diri lansia sebagai berikut:
  1. Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), seringkali tipe ini tidak tidak sedikit mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai paling tua.
  2. Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini seringkali sangat diprovokasi kehidupan keluarga, bilamana kehidupan keluarga tidak jarang kali harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi andai pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan bakal menjadi merana, lagipula jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
  3. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini lazimnya terlihat sengsara, sebab perilakunya sendiri sulit ditolong orang beda atau ingin membuat sulit dirinya.
 
3.Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan

Pada umumnya evolusi ini dimulai ketika masa pensiun. Meskipun destinasi ideal pensiun ialah agar semua lansia dapat merasakan hari tua atau garansi hari tua, tetapi dalam prakteknya sering ditafsirkan sebaliknya, sebab pensiun sering ditafsirkan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, kedudukan dan harga diri. Reaksi sesudah orang menginjak masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya laksana yang sudah diuraikan pada point tiga di atas.

Bagaimana menyiasati pensiun supaya tidak adalah beban mental sesudah lansia? Jawabannya paling tergantung pada sikap mental pribadi dalam menghadapi masa pensiun. Dalam fakta ada menerima, terdapat yang fobia kehilangan, terdapat yang merasa senang memiliki garansi hari tua dan ada pun yang seakan-akan acuh terhadap pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebetulnya punya dampak untuk masing-masing individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan akibat negatif bakal mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih dominan  positif usahakan terdapat masa persiapan pensiun yang benar-benar dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan guna mempersiapkan diri, tidak saja diberi waktu guna masuk kerja atau tidak dengan mendapat  gaji penuh.

Persiapan tersebut dilaksanakan secara berencana, terorganisasi dan terarah untuk masing-masing orang yang bakal pensiun. Jika perlu dilaksanakan assessment guna menilai arah minatnya supaya tetap memiliki pekerjaan yang jelas dan positif. Bagi merencanakan pekerjaan setelah pensiun dan menginjak masa lansia dapat dilaksanakan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya teknik berwiraswasta, teknik membuka usaha sendiri yang sangat tidak sedikit jenis dan macamnya.

Model pelatihan hendaknya mempunyai sifat praktis dan langsung tampak hasilnya sampai-sampai menumbuhkan kepercayaan pada lansia bahwa disamping kegiatan yang sekitar ini ditekuninya, masih ada pilihan lain yang lumayan menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sampai-sampai lansia tidak menginginkan bahwa sesudah pensiun mereka menjadi tidak berguna, menganggur, pendapatan berkurang dan sebagainya.


4.Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat

Akibat berkurangnya faedah indera pendengaran, penglihatan, gerak jasmani dan sebagainya maka hadir gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran paling berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sampai-sampai sering memunculkan keterasingan. Hal tersebut usahakan ditangkal dengan selalu menyuruh mereka mengerjakan aktivitas, sekitar yang terkaitmasih sanggup, supaya tidak merasa terpencil atau diasingkan. Karena andai keterasingan terjadi bakal semakin menampik untuk berkomunikasi dengan orang beda dan kdang-kadang terus hadir perilaku regresi seperti gampang menangis, mengurung diri, mengoleksi barang-barang tak bermanfaat serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sampai-sampai perilakunya laksana anak kecil.

Belum ada Komentar untuk "Psikologi Lansia"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel